Api yang Tak Mudah Padam
Hidup, kadang datang seperti badai yang menampar dari segala arah.
Ia tak peduli berapa kali kau terjatuh,
tak peduli betapa keras kau sudah berjuang untuk tetap berdiri.
Ia hanya berhembus dingin, kencang, dan tanpa belas kasihan.
Namun di balik kekacauan itu, sesuatu sedang bekerja diam-diam:
kau tidak sedang hancur, kau sedang ditempa.
Ada nyala kecil di dalam dada yang tak pernah benar-benar padam.
Mungkin redup, mungkin hampir mati,
tapi dari tekanan paling panas, api paling kuat lahir.
Seperti besi yang dicium oleh bara,
jiwa pun dibentuk oleh luka disesap oleh getir,
namun justru di sanalah keteguhan tumbuh.
Hidup bukan tentang menghindari luka,
tapi tentang berdamai dengan nyerinya,
tentang belajar menyalakan cahaya dari puing-puing gelap yang tersisa.
Kau mungkin menangis malam ini,
menyembunyikan getir di balik senyum yang orang lain anggap tabah,
tapi percayalah setiap air mata sedang menulis kekuatan di dasar hatimu.
Kelak, ketika badai berhenti menampar,
kau akan menatap langit yang sama dan tersenyum.
Menyadari bahwa semua luka yang pernah kau benci
adalah tangan kehidupan yang sedang membentukmu.
Bahwa dari setiap pecahan yang kau kira akhir,
ternyata kau dilahirkan kembali lebih kuat, lebih tenang, lebih menyala.
Jadi, jika hari ini hidup terasa kejam,
biarkan ia memukulmu dengan caranya sendiri.
Biarkan panas itu mengajarimu bertahan.
Sebab kau bukan bara yang mudah padam
kau adalah api yang tumbuh dari luka,
menyala, dan tak akan pernah benar-benar padam.
Komentar
Posting Komentar